Postingan

Goodbye Nirwana

Gambar
First sight, I think you so talkative, dear. And I couldn’t imagine that I must in Infokom group with you. You were young volunteer in East Kalimantan’s contingent. Yes, you little miss rebel. Hehe. Sehari sebelum keberangkatan ke Gorontalo, kita berdua naik turun tangga gedung PMI Provinsi Kaltim, untuk mengumpulkan bahan mading. Kaki keram gilak! Bengkak. Seperti biasa, kamu menyuguhkan raut muka yang sama denganku, capek. Di Gorontalo, kamu sering sekali berkelahi dengan Nanda. Sering curhat ke aku, betapa jengkelnya kamu sama nanda. Ah, anak kecil. Kenapa suka kelahi cuma karena hal-hal kecil? Aku loh dik yang bingung sama kalian. Aku, Nanda, dan kamu adalah satu kelompok Infokom kontingen kaltim Kaltim. Belum lagi aku yang harus menyatukan kerja sama antar anggota infokom lain. Dik, jangan kelahi lagi ya. Kita harus menyiapkan tema infokom setiap hari nih. Biar mading kita makin keren dan dapat juara nasional J Dik, kamu ingat nggak? Tengah malam kita begadang meny...

Sehat itu Mahal!

Gambar
wajah sang konsumen == Padahal paranoid ntuh Siapa yang ndak suka gulali? Pada suka kan, meski nggak terlalu. Ya nggak suka nggak usa icip *lirik Tappei. HIHI. Gulali yang pinky siapa sangka pewarnanya berbahaya? Terus masih ada bakso, tahu, mie, yang dicampur boraks. Terasi dengan bahan baku udang yang busuk. Mudah-mudahan kalau di Bontang Kuala, tempat wisata di Bontang yang terkenal dengan terasinya, original 100%. Halo cendol? Halo juga gula aren? Halo kecap? Aku juga mulai paranoid sama kamu. Waah, kayaknya paranoid sama makanan-makanan yang berwarna. Hedeh. Makin maju zaman, makin ‘kere’aktif aja penjual makanan. Ternyata bahan kimia berbahaya yang mereka campur kebanyakan sudah lama dipakai sejak dahulu loh. Tapi pake nama daerahnya gitu. Mereka emboh sama nama kimianya Contohnya boraks tapi aku lupa. Para karyawan pun yang sehari-hari bercengkerama dan asyik campur ini itupun kebanyakan nggak tahu apa itu. “Di suruh, Bos.” Mana pisau mana pisau >> ...

Tanggungjawab Seorang Anggota

Gambar
Tak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya anggota di sebuah organisasi dapat mencerminkan visi misi dari organisasi tersebut. Apakah sudah tercapai atau belum. Penilaian orang pun, mereka melihat dari anggotanya. Sama halnya dengan Islam, orang menilai dari followers -nya, kan? J Aku menulis ini karena terusik. Begitu banyak pertanyaan yang tak kumengerti. Mengapa mereka begitu sih? Kenapa aku nggak bisa menjadi anggota yang baik? Mengapa aku nggak bisa memberi contoh yang baik untuk adik-adik? Dan banyak pertanyaan, ‘kok gitu?’ dalam hati :p ------------------------------------- Dulu di SMP, aku mengagumi seorang kakak kelas cewek yang stelannya muslimah banget. Udah gitu cantik dan aktif di OSIS. Ya, kagum itu wajar dan lumrah. Apalagi saat itu aku suka mengamati orang. Di SMA pun, aku menjumpainya lagi. Dia aktif di rohis. Tapi dia berubah, bukan yang sering kulihat di SMP dulu. Pakaiannya ketat, jilbabnya mulai ketarik ke atas, dan kenapa dia pacaran? Bukankah da...

Ending Sebuah Perkenalan

Gambar
Teman-teman kelas X Teman2 yang menemani selama 2 tahun, kelas XI dan XII Pengurusan ijazah tinggal menunggu hari. Ada yang sabar menunggu. Ada yang marah-marah karena lama banget. “Syarat daftar ulang kurang nih!” “Sabar dong! Kita juga belum dapet.” “Tapi kan daftar ulangmu masih lama, plen !” “Hoho.” Aku senang banget bisa bertemu dengan teman-teman SMA di awal-awal MOS SMAN 1 Bontang tahun 2009. Wajah-wajah baru dan tentu saja dengan cerita yang baru juga. Tiga tahun bersama membuat hari-hari tak sepi. Ada saja yang mengapa ketika bertemu menepuk bahuku serta memelukku ketika cobaan berat mendatangiku. “Aku yakin. Kamu bisa, Bin! Sukses di IPA ya.” “Jangan nangis ya, Bin. Aku tau kamu kuat.” Tertawa di depan kelas bareng teman-teman gokil. Salah satunya Bennita, Yola, dan Tika. Tiga orang dengan tawa dan canda yang unik juga. Tapi kebanyakan aku sih yang jadi bahan ketawaan. Loh?? Kasian dong. Megap-megap kepedasan makan Maicih berbagai level dengan ...

Ketika Kemampuanmu Diragukan

Gambar
Banyak yang tertegun dan meragukan ketika aku memutuskan masuk jalur SNMPT tulis IPC, kecuali ortuku. “Percuma dong 2 tahunnya!” “Susah. IPS mesti dipelajari juga!” “Yakin bisa tembus?〝 Tapi ada juga yang mendukung ketika aku memutuskan memilih psikologi IPS karena psikologi IPA gradenya tinggi sekali dan berada di luar Kaltim. Sedangkan aku nggak direstui kuliah di luar Kaltim. Ya, sy sadar diri jika memilih Psikologi IPS ada komentar merendahkan. Sy punya masa lalu yang kelam. Hmmm. bisa dibilang begitu dah. “Cocok tuh. Semoga keterima ya!” “Semoga lolos, Bin!” Ada yang membuatku sakit hati karena seorang teman. Dia juga masuk psikologi. Dia dari jurusan IPS. Gatau maksudnya bercanda atau serius. Tetap aja, aku tersinggung. “Anak IPA ini harus dibinasakan. Kalau IPS baru dibina.” Duh, pikirannya. Emang IPS nggak ada yang ambil kuliah di IPA? Ada lagi. Ketahuan deh. Gina saja yang IPS bisa masuk kebidanan Poltekkes. Febrian, Ali, dan lainnya masuk STT ...

Binti, Binti, dan Binti

Gambar
Hi, my name is Binti :D Aku terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Anak paling ganteng. Bahahaa. Maksudnya anak cewek sendiri. Hehe. Merasa istimewa karena terlahir pada saat tahun baru masehi tahun 1994. Lebih istimewa lagi, tanggal lahirku sama dengan tanggal lahir mamakku. Kompakan ceritanya neh ^^v Tapi jujur ya. Aku nggak suka dipanggil ‘mba’ sama teman-teman sebaya. Merasa paling tuhak atau malah tampang ibu-ibu ya? Bahahaaaa. Kalau ini mah keterlaluan kali, masih ABG gini dipanggil Ibu. “Heik? Apa?” pake muka heran jelek. Nggak terima. “Karena kamu dewasa!” Ya Allah… Dewasa sih dewasa. Tapi nggak usah sampai panggil mba kali. Justru ketika mereka memanggil namaku yang kusuka, aku merasa dihargai dan disayang. “Mba Bin!” Nggak noleh. “Binti!” Baru noleh. Back to the poin. Dulu aku tak tahu arti dari sebuah nama. Aku hanya mengerti kalau namaku, Binti. Begitu orang-orang memanggilku. Dari lahir sampai SD tak ada yang mengol...

Berbagi Rumah

Gambar
Di rumahku memang rameh. Cukup besar. Alhamdulillah. Aku pun tidak tinggal sendiri. Ada kakak Bapak dan om. Kamar di belakang kadang di kira kos-kosan. Padahal bukan hehe. Dulu aku tidur di kamar sendiri sebelum kakakku pindah ke kamar belakang. Aku leluasa melakukan apapun di kamarku. Bahkan aku pernah lari ke luar kamar sambil menangis tiba-tiba karena mendengar kucing mengeong. Hahaha. Tapi sejak kelas 5 SD aku harus berbagi kamar dengan kenalan Bapak, cewek. Namanya Mba Puji. Dia kerja lapangan. Bolak-balik Sangatta-Bontang. Pembalap sekali dah pokoknya. Awalnya sih aku enjoy karena ada teman ngobrol. Bisa pinjam lepinya dan printer. Tapi lama-lama nggak nyaman. Kadang nelpon sampai tengah malam, saat waktunya aku tidur. Sampai bau parfumnya yang sedikit bikin aku pusing. Lumayan lamalah dia numpang di kamarku. Aku jadi jengkel. Dan kurang ngerasain yang namanya ruang privatku. Tapi akhirnya mbanya pindah dan cari kosan lain. Tapi cerita berbagi kamarku tak berhenti...